Beruntung, Bianca masih sempat mengirimkan sebuah gambar melalui pesan Whatsapp sebagai petunjuk koordinat bagi laki-laki yang menanyakan keberadaan perempuan itu, sebelum layar ponselnya benar-benar mati total karena kehabisan daya.
Dan sekarang, tidak ada hal lain yang bisa perempuan itu lakukan selain menunggu.
Bianca menoleh ke kanan dengan pandangan yang sedikit ia arahkan ke bawah untuk memastikan kondisi Adinda yang raganya terkulai tak berdaya di atas kursi roda akibat kehilangan kesadaran.
Bianca kembali menghela napas sebelum mengembalikan pandangannya ke depan. Netranya sempat mengedar ke seluruh penjuru arah, berharap bahwa mungkin saja akan terjadi pertemuan dengan sosok yang wajahnya ia kenali. Namun, di menit-menit berikutnya harapan itu rupanya harus berujung nihil. Teman-temannya berpencar — sebagian ada yang masih berada di tengah pusat acara tetapi sisanya, entah sudah tersebar di belahan bumi bagian mana.
“Ca.”
Suara laki-laki yang terdengar cukup lantang dari sisi kirinya itu, membuat si pemilik nama yang semula tengah memerhatikan sepasang jari kelingking kakinya yang lecet akibat gesekan tali sepatu hak tinggi yang ia kenakan malam ini, berjengit di tempatnya berdiri.
Bianca lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati sosok Sabian yang terpaut jarak delapan meter dari posisi tungkainya berpijak saat ini, berlari kecil ke arahnya. Napasnya sontak tertahan di kerongkongan saat figur laki-laki itu terlihat semakin mendekat, dan yang ia lakukan sesaat setelah iris mata mereka bersinggungan di satu titik adalah mengalihkannya ke arah lain sesegera mungkin. Ke mana saja, kecuali ke arah laki-laki dengan kaos hitam dan jaket cokelat yang ia kenakan sebagai luaran itu.
Sabian melewati tubuh yang perempuan untuk menghampiri Adinda yang duduk di kursi roda. Laki-laki itu kemudian merunduk — menyejajarkan posisi wajah dengan saudara perempuannya yang sudah tidak sadarkan diri sejak puluhan menit yang lalu.
“Minum berapa banyak dia?” tanya Sabian setelah laki-laki itu kembali berdiri.
Yang ditanya menelan ludah sebelum menjawab. “Gue nggak tau, sorry.”